Pondok Pesantren

Pesantren, jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia, merupakan pendidikan sistem pendidkan tertua saat ini dan si anggap sebagai produk budaya Indonesia yang indigenous. Model pendidikan ini telah ada sejak munculnya Islam di Nusantara. Dalam perkembangannya pendidikan ini mengalami perkembangan yang luar biasa dengan variasi yang beragam, disesuaikan dengan kultur budaya setempat. Bahkan beberapa pesantren muncul bak sebuah ‘kampus mercusuar’ yang memiliki kelengkapan fasilitas untuk membangun potensi-potensi santri, tidak hanya dari segi akhlaq, nilai,intelek dan spiritualitas, mempertahankan ciri khas dan keaslian isi (curriculum content) yang sudah ada, misalnya sorogan dan bandongan, kebanyakan mengadopsi sistem persekolahan yang klasikal-formal.

Pesantren yang berda di bawah naungan Yayasan Soebono Mantofani merupakan pesantren yang kental dengan ciri khas seperti yang telah disebutkan di atas. Hanya bedanya, biasanya pesantren adalah induk untuk membuka lembaga pendidikan formal, tetapi di sini, pesantren harus menyesuaikan dengan pendidikan formal. Meski demikian tidak mengurangi kualitas pendidikan pesantren itu sendiri.

Sejak tahun 1995 pesantren ini didirikan sampai sekarang, seluruh komponen pesantren terus ‘berbenah diri’ untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Dengan kurikulum Independent memudahkan ke-’aku’-an pesantren untuk menyesuaikan dengan pendidikan formal yang ada. Dalam rangka mengefektifkan waktu yang ada maka pesantren ini mengambil waktu-waktu strategis yang mengikuti shalat fardu yaitu;

a. Pagi pk. 05.00-06.30 (ba’da Subuh)
b. Sore pk. 15.30-17.00 (ba’da Ashar)
c. Malam pk. 18.00-22.00 (ba’da Maghrib dan Isya’)
d. Istirahat pk. 22.00-05.00

Mengingat adanya beberapa kebiasaan yang berbeda antara santri satu dengan yang lainnya maka tidak ada seragam khusus yang mencirikan eksistensi santri, yang terpenting adalah baju muslim/ah. Aktifitas sehari-harinya adalah, mengkaji kitab-kitab kuning yangberkaitan dengan persoalan Quranik, Hadits, Fiqh, Tasawuf, Tauhid, Hadits tauhid, dan gramatikal dan tata Bahasa Arab (nahwu-shorf). Adapun beberapa keahlian lain yang diajarkan dalam Pesantren Soebono Mantofani adalah Muhadharah, khitobah, rawy, Qiroat bin-naghom, hajir marawis.

Semua yang telah diuraikan di atas, akan menjadi benar-benar efektif jika seluruh wali santri dan seluruh elemen kepesantrenan ikut berkecimpung di dalamya secara maksimal dan efektif.

Penulis: M.Wiyono, S.Th.I