Muhammad binn Siriin (Ibnu Sirin)

Ayah Ibnu Sirin adalah salah seorang hamba sahaya dari sahabat Anas bin Malik ra yang menikah dengan Shofiyah, seorang hamba sahaya Abu Bakar ra. Singkat cerita, dari perkawinan mulia ini, Allah menganugerahi mereka seorang anak bernama Muhammad bin Sirin yang dikenal dengan Ibnu Sirin.

Dua puluh tahun kemudian ia menjadi salah seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Sejak kecil ia belajar Islam kepada para sahabat Rasul yang ada di Madinah, di antara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Ubay bin Ka’ab, dan sebagainya. Ketika ia berusia 14 tahun, ia berhijrah ke Basrah, pusat peradaban Islam waktu itu. Banyak orang Romawi dan Persia yang baru masuk Islam juga menimba ilmu keagamaan di kota itu. Banyak ulama besar yang tinggal di Basrah, salah satunya adalah Hasan Al-Bashri.

Dalam keseharian, Muhammad bin Sirin membagi waktunya untuk melakukan tiga aktivitas: beribadah, mencari ilmu, dan berdagang. Pertama, Sebelum Subuh sampai waktu Duha ia berada di masjid al-Basrah. Di sana ia belajar dan mengajar berbagai pengetahuan Islam. Kedua, Setelah Duha hingga sore hari ia berdagang di pasar. Ketika berdagang ia selalu menghidupkan suasana ibadah dengan senantiasa melakukan dzikir, amar ma’ruf, dan nahi munkar. Ketiga, Malam hari, ia khususkan untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan oleh Ibn Sirin senada dengan apa yang disinyalir oleh al Qur’an, bahwa pilihan malam sebagai tempat untuk bermunajat kepada Allah adalah pilihan yang tepat, karena pada saat itu raga/jasad kita benar-benar ingin dimanjakan dengan tidur pulas. Diantara ciri orang mukmin adalah seperti yang tercantum di dalam al Qur’an adalah :
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).(Adzaariyat:18)

jka kita mau mengalahkan keinginan raga itu maka kita akan menjadi orang yang dekat dengan tuhan, berdasarkan konsep, bahwa jika raga kita lemah maka tingkat spiritual kita mengalami peningkatan naik ke hadapan Allah dan begitu juga sebaliknya jika kita sengaja untuk memanjakan raga kita maka spiritual kita akan tumpul dan tertimbun oleh manjanya raga tersebut.

Tangisannya yang keras ketika berdoa terdengar sampai ke dinding-dinding rumah tetangga. Dalam menggeluti dunia perdagangan, ia sangat berhati-hati sekali. Ia khawatir kalau-kalau terjebak ke dalam masalah yang haram.

MASUK PENJARA GARA-GARA BANGKAI TIKUS
Kehidupan Muhammad bin Sirin memang tidak luput dari ujian. Suatu ketika ia membeli minyak sayur dalam jumlah besar untuk kepentingan usaha perdagangannya dengan cara hutang. Ketika salah satu kaleng minyak itu dibuka, di dalamnya didapatkan bangkai tikus yang sudah membusuk. Sejenak ia mulai berpikir, apakah ia harus mengembalikannya atau tidak, sesuai dengan perjanjian yang mengatakan, “Apabila terdapat aib pada barangnya, maka ia berhak mengembalikannya.”

Tapi, ia mengkhawatirkan tentang sesuatu. Apabila ia mengembalikannya, tentu si pedagang minyak sayur itu akan menjualnya kepada orang lain lagi. Sedangkan tempat pembuatan minyak hanya satu. Sudah barang tentu seluruh minyak telah tercemar oleh bangkai tikus itu. Jika dijual kepada orang lain, maka akan tersebarlah bangkai dan najis itu ke setiap orang. Atas pertimbangan tersebut, maka dibuanglah seluruh minyak itu. Ketika datang penjual minyak itu untuk menagih, ia tidak memiliki uang. Ia segera diadukan kepada qadi (hakim pengadilan). Maka ia pun dipanggil untuk diadili. Setelah itu ia dipenjarakan karena kasus tersebut.

Di dalam penjara, petugas merasa sangat kasihan kepadanya. Karena petugas menilainya sebagai orang shalih. Suara tangis yang mengiringi setiap shalat dan munajatnya selalu terdengar oleh petugas tersebut. Setelah memandang iba kepadanya, penjaga penjara itu berkata kepadanya,
“Syaikh, bagaimana kalau saya menolong anda. Saat malam anda boleh pulang ke rumah. Keesokannya anda datang lagi ke sini. Apa anda setuju?”

Ia menjawab, “Kalau engkau melakukan demikian, maka engkau telah berlaku khianat. Saya tidak setuju.”
Sebelum wafat, Anas sempat berwasiat agar yang memandikan dan menguburkannya adalah Muhammad bin Sirin. Salah seorang kerabat Anas bin Malik memohon kepada petugas penjara agar Muhammad bin Sirin diizinkan menunaikan wasiat gurunya. Petugas mengizinkannya. Tetapi, Muhammad bin Sirin berkata, “Saya dipenjara bukan karena penguasa. Tapi karena pemilik barang. Saya tidak akan keluar sampai pemilik barang mengizinkannya. Setelah pemilik barang mengizinkannya, berangkatlah ia ke tempat Anas bin Malik dibaringkan.

Usai mengurus jenazah Anas bin Malik, ia kembali ke penjara tanpa mampir ke rumahnya barang sejenak pun. Pada usia ke 102 tahun, ia wafat. Duka cita meliputi seluruh penduduk Basrah. Karena telah kehilangan seorang ulama besar yang mempunyai kharisma yang tinggi.